Inilah Fenomena Astronomi Minggu Ini, Ada Puncak Hujan Meteor Leonid - Media Benang merah

Breaking

Sabtu, 21 November 2020

Inilah Fenomena Astronomi Minggu Ini, Ada Puncak Hujan Meteor Leonid


JAKARTA.BM- Pusat Sains dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Pussainsa LAPAN) kembali merilis sederet fenomena astronomi yang terjadi pada minggu ketiga bulan November ini. Fenomena-fenomena tersebut berlangsung pada 16-22 November 2020, mulai dari penampakan pertama bulan sabit muda hingga fase perbani awal. Informasi ini juga telah disampaikan melalui kanal-kanal resmi Pussainsa LAPAN.

Berikut adalah rincian waktu dan penjelasan dari setiap fenomena astronomi pada minggu ketiga bulan November ini:

1. Bulan sabit muda Fenomena ini dapat disaksikan pertama kali menggunakan alat bantu optik maupun mata telanjang pada 16 November 2020, yaitu sejak terbenam Matahari pukul 17.47 WIB hingga 19.00 WIB saat Bulan terbenam.  Jarak toposentrisnya adalah 359.735 km dengan iluminasi 2,27 persen dan lebar sudut 0,75 menit busur. "Bulan sabit muda kali ini berumur 29,7 jam, elongasi 16,35 derajat dan terbenam dari arah Barat-Barat Daya di konstelasi Ophiuchus," tulis Lapan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (15/11/2020).

2. Puncak hujan meteor Leonid Puncak hujan meteor Leonid akan terjadi pada 18 November 2020, yaitu sekitar saat terbit Matahari ketika berada di titik tertinggi (kulminasi). "Hujan meteor Leonid adalah hujan meteor yang titik radian (titik muncul meteor) berada di Leo," tulis Lapan. Fenomena ini aktif sejak 6-30 November 2020.  Hujan meteor Leonid dapat disaksikan sejak pukul 00.30 WIB hingga terbit Matahari pada pukul 05.25 WIB dengan intensitas berkisar 11 meteor per jam (Pulau Rote) hingga 14 meteor per jam (Pulau Weh) untuk wilayah Indonesia. Adapun ketinggian titik radian saat kulminasi bervariasi mulai 52 derajat (Pulau Rote) hingga 69 derajat (Pulau Weh).

3. Deklinasi maksimum selatan Bulan Bulan akan berada pada deklinasi maksimum selatan pada 18 November 2020 pukul 18.27 WIB.  "Deklinasi maksimum selatan bulan bermakna bulan terletak pada posisi paling selatan dari ekuator langit," jelas Lapan. Deklinasi maksimum selatan Bulan kali ini adalah 24,9 derajat dengan ketinggian Bulan di Indonesia ketika kulminasi bervariasi antara 59,1 derajat (Pulau Weh) hingga 76,1 derajat (Pulau Rote). "Bulan berada di arah selatan ketika kulminasi yang terjadi pada pukul 14.45 WIB," demikian pernyataan Lapan Bulan terletak di konstelasi Sagitarius dan berada di atas ufuk sejak pukul 08.30 WIB hingga pukul 21.00 WIB dari arah timur menenggara hingga Barat-Barat Daya.

4. Tripel konjungsi Bulan-Jupiter-Saturnus Pada 19 November 2020, Bulan akan mengalami tripel konjungsi dengan Jupiter dan Saturnus, yaitu di dekat konstelasi Sagitarius arah Barat-Barat Daya. Fenomena ini nantinya dapat disaksikan sejak pukul 17.50 WIB hingga terbenam Bulan pada puku 21.40 WIB. Adapun puncak tripel konjungsi terjadi pada pukul 18.40 WIB dengan konfigurasi Bulan, Jupiter, dan Saturnus membentuk sebuah segitiga sembarang.

5. Fase perbani awal Pucak fase perbani awal akan terjadi pada 22 November 2020 pukul 11.45 WIB.  "Bulan berjarak 393.845 km dari Bumi (geosentris) dengan diameter sudut 30,3 menit busur dan terletak pada konstelasi Aquarius," ungkap Lapan. Bulan akan terbit di sekitar tengah hari dari arah Timur Menenggara, kemudian berkulminasi di arah Selatan setelah terbenam Matahari dann Bulan terbenam dari arah Barat-Barat Daya setelah tengah malam.(*)
 

Baca Juga

# Gan | Lapan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar




"BOFET HARAPAN PERI" ( Cp Order +62 822-8820-3440 )



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS