Indonesia Tekankan Pemulihan Global Harus Inklusif, Transformatif, Kolaboratif - Media Benang merah

Breaking

"BAHAYA MASIH MENGANCAM"
"JANGAN KENDOR! TETAP JALANKAN PROTOKOL KESEHATAN"

Kamis, 10 Maret 2022

Indonesia Tekankan Pemulihan Global Harus Inklusif, Transformatif, Kolaboratif


​JAKARTA.MBM- Pada Selasa malam (8/3), Indonesia yang diwakili Dubes Ibnu Wahyutomo, Plt Dirjen KS Multilateral Kemlu RI, telah memimpin pertemuan pertama Informal Working Group (IWG-1) sesi Leadership Dialogue2, yang merupakan bagian dari forum Stockholm+50. Sesi Leadership Dialogue 2 ini diketuai bersama (co-chair) oleh Indonesia dan Jerman.

Stockholm+50 (S+50) adalah forum untuk memperingati 50 tahun United Nations Conference on the Environment, atau yang dikenal dengan Konferensi Stockholm 1972. Tema besarnya adalah “A healthy planet for the prosperity of all - our responsibility, our opportunity. Hasil utama dari Konferensi Stockholm saat itu adalah terbentuknya United Nations Environment Programme (UNEP), yang merupakan organisasi pertama di bawah PBB yang fokus menangani isu ingkungan hidup. Kini, markas UNEP berada di Nairobi, Kenya.  

Tujuan forum S+50 adalah mengumpulkan pandangan dan rekomendasi berbagai stakeholders atas sektor pembangunan, lingkungan hidup, keanekaragaman hayati, iklim, serta mendorong pencapaian SDGs.

Untuk itu, S+50 mengadakan tiga sesi Leadership Dialogue (LD), dengan fokusnya masing-masing. Sesi LD-1 dengan co-chair Kanada dan Ekuador mengangkat “actions to achieve healthy planet and prosperity", LD-2 mengangkat tema “achieving a sustainable and inclusive recovery", sedangkan LD-3 oleh Finlandia dan Mesir mengangkat “environmental dimension of sustainable development".

Pada intervensi pembukaan IWG-1, Indonesia menyampaikan bahwa pandemi telah mengakibatkan dunia mengalami masalah multi-dimensi baik politik, ekonomi, dan sosial. Dalam dua tahun ini, seluruh negara berjuang untuk keluar dari krisis. Telah terdapat beberapa kemajuan, sejumlah inisiatif dan kerja sama. Namun, tantangan yang dihadapi masih sangat besar, sehingga perlu upaya pulih bersama yang inklusif, transformatif, dan kolaboratif.

Lebih lanjut Dubes Ibnu menjelaskan bahwa upaya pemulihan bersama, yang juga tercermin dalam tema Presidensi G20 Indonesia “Recover Together, Recover Stronger", harus diperkuat dengan semangat kemitraan. Hal ini untuk pastikan bahwa manfaat perubahan dapat nyata-nyata dirasakan oleh masyarakat. “Untuk itu, kita tekankan pentingnya kolaborasi di semua lini, baik pemerintah, kalangan swasta, dan CSO," disampaikannya.  

Menyoroti isu inovasi dan teknologi digital, disampaikan arti penting digitalisasi dalam kehidupan di masa pandemi. Saat ini, ekosistem digital telah menjadi kunci dalam kehidupan ekonomi, khususnya ekonomi hijau. Digitalisasi juga telah membuka peluang bagi inovasi, kerja sama, hingga memfasilitasi pertumbuhan UMKM, perempuan, pemuda,serta kalangan difabel.

“Akses digital memberikan kesempatan kepada banyak orang untuk mengakses pasar global dan meningkatkan kondisi kehidupannya," demikian ditambahkan.

Terkait Kerja sama Selatan-Selatan, dijelaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang aktif dalam forum Kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST). Model kerja sama dalam KSST sangat mengedepankan kolaborasi multi-stakeholder, dengan menghormati tingkat kemampuan setiap negara.

Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta menyoroti sejumlah tantangan dalam upaya pemulihan dan pembangunan. Diantaranya, masih ada gap teknologi antara negara maju dan berkembang, serta akses digital yang masih sulit di negara berkembang dan warga di remote areas. Kondisi ini dihadapi banyak negara di kawasan Afrika, Amerika Latin, Karibia, dan Asia.

Selain itu, sejumlah peserta memberikan masukan yang konstruktif. Diantaranya, ada peluang dari ekonomi sirkuler, inisiatif kerja sama iklim, pengembangan UMKM, hingga peluang pendanaan dan investasi untuk pembangunan.

Pertemuan IWG-1 dihadiri oleh 189 peserta virtual, baik negara anggota PBB, wakil organisasi internasional dan regional, serta wakil sejumlah CSO yang mewakili isu perempuan, profesi, lingkungan hidup, dan pemuda. Delegasi Indonesia sendiri terdiri atas Kemlu dan KLHK.

Setelah IWG-1, masih terdapat sejumlah rangkaian pertemuan, sebelum kegiatan puncak S+50 yang rencananya akan berlangsung tanggal 2-3 Juni 2022 di Stockholm, Swedia.
 
#Gan | Kemlu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS